Harga Emas dan Perak Bergejolak Jelang 2026, Setelah Reli Terbesar Sejak 1979
- account_circle Pontianak Metro
- calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
- print Cetak

Ilustrasi pasar emas dan perak menutup tahun dengan volatilitas tinggi. Setelah melonjak tajam sepanjang tahun, harga terkoreksi menjelang 2026 di tengah sentimen global yang belum stabil.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PontianakMetro.com – Pasar emas dan perak menutup tahun dengan pergerakan harga yang ekstrem. Setelah mencatat kenaikan tahunan terbesar sejak 1979, kedua logam mulia tersebut justru mengalami koreksi tajam menjelang pergantian tahun, menandai periode penuh volatilitas bagi para investor.
Sepanjang tahun, harga emas melonjak lebih dari 60 persen, bahkan sempat mencetak rekor tertinggi di atas US$4.549 per troy ounce atau setara Rp75,96 juta. Namun, setelah libur Natal, harga emas mulai terkoreksi dan diperdagangkan di kisaran US$4.330 atau sekitar Rp72,31 juta per ounce pada malam Tahun Baru.
Pergerakan serupa terjadi pada harga perak. Logam putih ini sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$83,62 per ounce atau sekitar Rp1,39 juta. Menjelang akhir tahun, harga perak turun dan bergerak di area US$71 per ounce, setara Rp1,18 juta.
Analis menilai reli kuat logam mulia sepanjang tahun didorong oleh kombinasi faktor ekonomi dan geopolitik global. Ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) menjadi salah satu pendorong utama, disertai meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven) di tengah ketidakpastian dunia.
“Emas dan perak mengalami kenaikan signifikan karena interaksi berbagai faktor ekonomi, investasi, dan geopolitik,” ujar analis pasar dari XS.com. Selain kebijakan suku bunga, pembelian emas dalam jumlah besar oleh bank sentral global turut menopang harga sepanjang tahun.
Kepala riset pasar AJ Bell, Dan Coatsworth, menyebut lonjakan harga juga dipicu oleh kekhawatiran inflasi, volatilitas pasar saham, serta tingginya utang pemerintah di Amerika Serikat dan Inggris. Kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, serta kecemasan akan potensi gelembung kecerdasan buatan (AI), ikut mendorong minat investor beralih ke emas dan perak.
Meski sentimen positif masih terasa memasuki 2026, para analis mengingatkan potensi koreksi lanjutan. “Aset yang sudah mencatat keuntungan besar biasanya menjadi yang pertama dilepas saat pasar bergejolak. Emas memenuhi dua kriteria itu: kinerjanya sangat kuat dan likuid,” kata Coatsworth.
Di sisi lain, perak mendapatkan dorongan tambahan dari faktor pasokan dan permintaan industri. China, produsen perak terbesar kedua di dunia, mengumumkan pembatasan ekspor perak serta logam strategis lain seperti tungsten dan antimon demi perlindungan sumber daya dan lingkungan.
Kebijakan tersebut bahkan menarik perhatian CEO Tesla Elon Musk, yang menyebut pembatasan ekspor perak sebagai kabar buruk bagi industri teknologi, mengingat logam tersebut berperan penting dalam berbagai proses manufaktur modern.
Selain itu, aliran dana besar ke instrumen investasi seperti exchange-traded funds (ETF) turut memperkuat harga emas dan perak sepanjang tahun. ETF memungkinkan investor berinvestasi pada logam mulia tanpa harus menyimpan aset fisik.
Memasuki 2026, analis memperkirakan harga emas masih berpotensi naik, meski dengan laju yang lebih moderat. Sementara itu, perak dinilai masih memiliki ruang kenaikan, namun reli lanjutan berisiko diikuti koreksi tajam.
Dengan ketidakpastian global dan tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya mereda, emas dan perak diperkirakan tetap menjadi primadona investor di tahun mendatang—meski perjalanannya diprediksi tetap berliku. (*/)
- Penulis: Pontianak Metro

Saat ini belum ada komentar