Ketika Ilmu BK Bertemu Kehidupan Nyata : Mahasiswa Universitas PGRI Pontianak Belajar Menjadi Konselor Humanis Melalui Kerja Kuliah Lapangan (KKL)
- account_circle Eli Trisnowati, M.Pd & Toni Elmansyah, M.Pd
- calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
- print Cetak

Ketika Ilmu BK Bertemu Kehidupan Nyata : Mahasiswa Universitas PGRI Pontianak Belajar Menjadi Konselor Humanis Melalui Kerja Kuliah Lapangan (KKL)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pontianakmetro.com – Tawa anak-anak berkebutuhan khusus di ruang kelas SLSB, kisah perjuangan para residen di rumah rehabilitasi, hingga cerita kehidupan para lansia menjadi ruang belajar yang tak ditemukan di bangku kuliah. Selama lima hari, 3 – 7 Agustus 2026, sebanyak 40 mahasiswa Semester VI Program Studi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas PGRI Pontianak merasakan secara langsung bagaimana ilmu BK bertemu dengan realitas kehidupan melalui kegiatan Kuliah Kerja Lapangan.
Kegiatan ini di laksanakan di tiga Lembaga Mitra, yakni Yayasan Rumah Rahayu, SLB Bina Anak Bangsa, dan Graha Werdha Marie Joseph. Untuk memastikan proses pembelajaran berlangsung optimal, mahasiswa dibagi ke dalam tiga kelompok sesuai lokasi penempatan. Setiap kelompok didampingi oleh dosen pembimbing lapangan sehingga proses observasi, interaksi, refleksi, dan evaluasi dapat berlangsung secara intensif. Secara keseluruhan, kegiatan ini melibatkan 12 dosen Program Studi BK yang terbagi di ketiga lokasi tersebut.

Menurut Ketua Pelaksana KKL, Eli Trisnowati, yang juga merupakan Pengelola Laboratorium Program Studi BK, mengatakan bahwa pengalaman langsung diperlukan agar mahasiswa mampu menghubungkan teori dengan realitas kehidupan.
“Di ruang kuliah, mahasiswa mempelajari teori dan berbagai pendekatan konseling. Namun, melalui KKL mereka belajar memahami manusia secara utuh. Karena itu, mahasiswa dan dosen kami bagi ke dalam beberapa kelompok agar pendampingan berlangsung lebih intensif dan setiap mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna,” jelas Eli.
Menurutnya, pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja sebagai konselor.
Sementara itu, Ketua Program Studi BK Universitas PGRI Pontianak, Kamaruzzaman, menegaskan bahwa pembelajaran di lapangan menjadi bagian penting dalam membentuk lulusan yang profesional.
“Kami ingin lulusan BK memiliki keseimbangan antara kompetensi akademik dan kepedulian sosal. Pengalaman berinteraksi dengan berbagai kelompok masyarakat akan memperkuat kemampuan mereka dalam memberikan layanan yang professional, adaptif, dan humanis,” ujarnya.
Belajar dari Beragam Kondisi Kehidupan
Di Yayasan Rumah Rahayu, mahasiswa berinteraksi dengan para residen yang sedang menjalani proses rehabilitasi penyalahgunaan narkoba. Mereka mendengarkan kisah perjuangan, mengikuti diskusi kelompok, serta belajar memahami bahwa proses pemulihan membutuhkan dukungan psikologis, sosial, dan penerimaan dari lingkungan.
Jintar Sandra Nainggolan, salah seorang mahasiswa yang mengikuti KKL di Rumah Rahayu, mengaku mendapatkan pengalaman yang mengubah cara pandangnya terhadap proses pendampingan.
“Saya belajar bahwa menjadi konselor bukan hanya memberikan solusi. yang paling penting adalah mampu mendengarkan tanpa menghakimi dan memberikan harapan kepada mereka yang sedang berjuang memperbaiki hidupnya. Pengalaman ini benar-benar membuka cara pandang saya tentang profesi konselor,” tuturnya.
Di SLB Bina Anak Bangsa, mahasiswa mendamoingi peserta didik berkebutuhan khusus melalui berbagai aktivitas edukatif, permainan, pembelajaran, dan kegiatan seni. Interaksi tersebut mengajarkan bahwa setiap anak memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda sehingga memerlukan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing.
Kepala SLB Bina Anak Bangsa, Wahyu Fitrahadi, mengapresiasi kehadiran mahasiswa selama kegiatan berlangsung.
“Mahasiswa BK Universita PGRI Pontianak tidak hanya dating untuk melakukan observasi, tetapi benar-benar terlibat mendampingi anak-anak. Kehadiran mereka memberikan suasana baru yang menyenangkan bagi poeserta didik sekaligus menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami layanan pendidikan khusus,” ungkapnya.
Sementara itu, di Graha Werdha Marie Joseph, mahasiswa menghabiskan waktu bersama para lansia melalui kegiatan berbincang, mendengarkan kisah kehidupan, membantu aktivitas sederhana, hingga memberikan pendampingan sosial. Dari lokasi ini, mahasiswa belajar bahwa perhatian, penghargaan, dan kesediaan mendengarkan sering kali menjadi bentuk layanan yang paling bermakna.

Menurut Toni Elmansyah, selaku Sekretaris Program Studi BK sekaligus dosen pengampu mata kuliah BK dalam Kondisi Khusus, pemilihan ketiga lokasi tersebut dilakukan secara sadar untuk memperkenalkan mahasiswa pada keragaman setting layanan BK.
“Lulusan BK tidak hanya bekerja di sekolah. Mereka juga memiliki peluang berkiprah di Lembaga rehabilitasi, pendidikan khusus, maupun Lembaga kesejahteraan sosial. Karena itu mahasiswa perlu memiliki pengalaman langsung agar mampu memahami karakteristik layanan pada setiap setting tersebut,” jelasnya.
Melalui pendampingan dosen di setiap kelompok, mahasiswa tidak hanya melakukan observasi, tetapi juga memperoleh ruang untuk berdiskusi, merefleksikan pengalaman, dan mengaitkan setiap temuan lapangan dengan teori yang dipelajari selama perkuliahan.
Kegiatan KKL ini menjadi wujud komitmen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Pontianak dalam menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, professional dalam praktik, dan humanis dalam pelayanan. Sebab pada akhirnya, menjadi konselor bukan sekadar menguasai teori dan teknik konseling, melainkan juga memiliki kepekaan untuk hadir, mendengarkan, serta mendampingi setiap individu dengan penuh empati dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan.
Penulis :
Eli Trisnowati, M.Pd
Toni Elmansyah, M.Pd
- Penulis: Eli Trisnowati, M.Pd & Toni Elmansyah, M.Pd
- Editor: Anisa

Saat ini belum ada komentar