Siswa SMPN 3 Kubu Raya Lempar Bom Molotov, FKDM Kalbar: Alarm Keras Dunia Pendidikan
- account_circle Tim
- calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
- print Cetak

FKDM Kalbar soroti aksi pelemparan bom molotov oleh siswa SMPN 3 Kubu Raya. Kejadian ini dinilai sebagai akumulasi masalah psikososial yang butuh penanganan serius. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PontianakMetro.Com — Peristiwa mengejutkan terjadi di lingkungan pendidikan Kabupaten Kubu Raya. Seorang siswa di SMP Negeri 3 Kubu Raya nekat melakukan aksi pelemparan bom molotov pada Selasa (3/2/2026).
Insiden ini langsung menjadi perhatian serius berbagai pihak dan dinilai sebagai alarm keras bagi dunia pendidikan, terutama terkait pembinaan karakter serta kesehatan mental peserta didik.
Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Kalimantan Barat, Muhamad Sani, menyampaikan keprihatinan mendalam atas keterlibatan pelajar dalam tindakan berbahaya tersebut pada Rabu (4/2/2026).
“Ini sangat memprihatinkan. Ketika pelajar sudah terlibat dalam tindakan berbahaya seperti pelemparan bom molotov, maka ini menjadi tanda bahwa ada persoalan mendasar yang harus segera dibenahi di dunia pendidikan,” ujar Muhamad Sani.
Menurut Muhamad Sani, penanganan kasus ini tidak boleh hanya berhenti pada proses hukum semata. Ia menegaskan pentingnya keterlibatan aktif dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah daerah dalam memperkuat pengawasan.
“Pembinaan mental, karakter, dan pengawasan terhadap anak-anak kita harus diperkuat. Dunia pendidikan wajib menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan,” tegasnya.
Dari perspektif psikologi pendidikan, ia menilai perilaku ekstrem remaja umumnya dipicu oleh akumulasi masalah psikososial yang tidak tertangani. Emosi yang labil di usia remaja awal sering kali memicu tindakan agresif sebagai bentuk pelampiasan masalah.
Muhamad Sani pun mendorong agar pihak sekolah memperkuat peran guru Bimbingan dan Konseling (BK). Hal ini diperlukan untuk membangun sistem deteksi dini terhadap setiap perubahan perilaku siswa di sekolah.
“Yang dibutuhkan adalah pendampingan psikologis, komunikasi intensif antara sekolah dan orang tua, serta ruang aman bagi siswa untuk mengekspresikan masalahnya,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya literasi emosi dalam kurikulum agar siswa mampu mengelola konflik tanpa kekerasan. Saat ini, aparat kepolisian masih mendalami motif pelaku dengan tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak.
Peristiwa di SMP Negeri 3 Kubu Raya tersebut diketahui mengakibatkan satu orang mengalami luka. Korban dilaporkan telah mendapatkan penanganan medis dan kini kondisinya sudah stabil serta diperbolehkan pulang.
FKDM Kalbar berharap insiden ini menjadi momentum evaluasi total agar lingkungan sekolah di Kalimantan Barat benar-benar aman dan mendukung tumbuh kembang anak secara sehat.
- Penulis: Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar