Hipertensi Jadi Penyakit Terbanyak di Pontianak 2025, Dinkes Ingatkan Bahaya “Silent Killer”
- account_circle Hms/Tim
- calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
- print Cetak

Hipertensi menempati urutan pertama penyakit di Puskesmas Pontianak sepanjang 2025 dengan 54.409 kasus. Dinkes imbau warga cek rutin dan perbaiki pola hidup. (Foto: Kadinkes Kota Pontianak, dr. Saptiko/Ist.)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PontianakMetro.Com — Tantangan kesehatan masyarakat di Kota Pontianak kini mengalami pergeseran signifikan. Bukan lagi penyakit infeksi, melainkan penyakit tidak menular yang berkaitan erat dengan pola hidup kini mendominasi kunjungan di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Berdasarkan data sepanjang tahun 2025, Hipertensi Esensial (darah tinggi) menempati urutan pertama dari 10 besar penyakit yang ditangani Puskesmas di Kota Pontianak dengan total 54.409 kasus. Angka ini jauh melampaui kasus nasofaringitis akut (flu) di posisi kedua dengan 44.912 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, menegaskan bahwa tingginya angka ini harus menjadi peringatan serius bagi warga untuk segera memperbaiki gaya hidup. Menurutnya, hipertensi sering kali disebut sebagai silent killer karena banyak penderita yang tidak menyadari kondisinya sampai terjadi komplikasi berat.
“Sekarang yang paling banyak adalah hipertensi. Berarti ini harus memperbaiki pola hidup, terutama konsumsi makanan tidak boleh berlebih, harus olahraga, istirahat cukup, dan kelola stres,” ujar Saptiko pada Selasa (31/3/2026).
Data 5 Besar Penyakit di Puskesmas Pontianak (2025)
1. Hipertensi Esensial: 54.409 Kasus
2. Nasofaringitis Akut (Flu): 44.912 Kasus
3. Dispepsia (Gangguan Lambung): 28.448 Kasus
4. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA): 20.575 Kasus
5. Diabetes Melitus: 19.522 Kasus
Saptiko menambahkan, pengobatan hipertensi tidak bisa hanya mengandalkan obat-obatan kimia. Pasien wajib melakukan perubahan perilaku secara konsisten, mulai dari pengaturan gizi hingga aktivitas fisik yang rutin.
“Penyembuhannya satu, dia harus cek rutin tekanan darahnya, minum obat, dan mengubah perilaku hidup. Jangan sampai nanti sudah stroke baru tahu kalau darah tinggi,” jelasnya.
Memasuki awal tahun 2026, Dinas Kesehatan mencermati adanya tren kenaikan kasus hipertensi sekitar 10 persen. Fenomena ini mempertegas bahwa masalah kesehatan saat ini bukan lagi didominasi oleh infeksi kuman atau bakteri, melainkan akibat gaya hidup yang tidak sehat (konsumsi garam, gula, dan lemak berlebih).
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Kota Pontianak akan terus memperkuat program cek kesehatan gratis di berbagai titik. Deteksi dini dinilai sangat krusial agar penyakit ini tidak berkembang menjadi komplikasi fatal seperti gagal ginjal, penyakit jantung, hingga stroke.
“Masyarakat harus mengerti potensi penyakitnya lebih dini agar bisa dikelola dengan baik. Kami akan terus sosialisasikan pengendalian konsumsi garam dan pentingnya olahraga rutin,” pungkas Saptiko.
Sepanjang 2025, total 10 penyakit terbesar yang ditangani seluruh Puskesmas di Pontianak mencapai 235.275 kasus, di mana hipertensi menjadi kontributor utamanya.
- Penulis: Hms/Tim
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar