BYD Geser Tesla sebagai Raja Mobil Listrik Dunia, Dominasi China Kian Tak Terbendung
- account_circle Pontianak Metro
- calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
- print Cetak

Produsen mobil listrik asal China, BYD, resmi menyalip Tesla sebagai penjual kendaraan listrik terbesar di dunia sepanjang 2025. Foto: Tangkapan layar YouTube The Electric Viking
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PontianakMetro.com – Peta persaingan kendaraan listrik global resmi berubah. Dominasi Tesla yang selama ini memimpin pasar dunia kini memasuki fase kritis setelah BYD, produsen mobil listrik asal China, memastikan diri sebagai penjual EV terbesar di dunia sepanjang 2025.
Dalam pengumuman resminya pada Kamis waktu setempat, BYD melaporkan bahwa penjualan kendaraan listrik berbasis baterai melonjak hampir 28 persen sepanjang tahun lalu. Total distribusi global perusahaan asal Shenzhen tersebut menembus lebih dari 2,25 juta unit, menempatkan BYD di puncak klasemen penjualan EV dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah industri otomotif.
Sementara itu, Tesla baru dijadwalkan merilis laporan penjualan resminya pada Jumat. Namun, berdasarkan estimasi para analis, penjualan Tesla sepanjang 2025 diperkirakan hanya sekitar 1,65 juta unit, tertinggal cukup jauh dari BYD.
Tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi Tesla. Sejumlah peluncuran produk baru mendapat respons beragam, sementara kekhawatiran investor meningkat akibat aktivitas politik Elon Musk serta tekanan ketat dari pabrikan China yang agresif menawarkan harga lebih terjangkau tanpa mengorbankan teknologi dan fitur.
Merek-merek China seperti BYD, Geely, dan MG kian mendominasi perhatian konsumen global. Strategi harga rendah yang dibarengi inovasi teknologi membuat mereka cepat menggerus pangsa pasar pemain lama. Tekanan ini bahkan memaksa Tesla meluncurkan versi lebih murah dari dua model terlarisnya di Amerika Serikat pada Oktober lalu.
Di sisi lain, Elon Musk kini menghadapi target ambisius untuk mengamankan paket kompensasi bernilai hingga US$1 triliun atau sekitar Rp16.000 triliun. Target tersebut mensyaratkan Tesla meningkatkan penjualan secara signifikan dalam satu dekade ke depan, sekaligus merealisasikan penjualan satu juta robot humanoid Optimus dan pengoperasian layanan Robotaxi tanpa pengemudi.
Tekanan terhadap Tesla semakin terasa setelah penjualan anjlok pada kuartal pertama 2025, dipicu sentimen negatif pasar terhadap peran Musk dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Sejumlah investor menilai fokus Musk terpecah karena keterlibatannya di berbagai entitas lain seperti SpaceX, X, The Boring Company, hingga perannya dalam lembaga efisiensi pemerintah Amerika Serikat.
Meski demikian, Musk belakangan menyatakan akan mengurangi keterlibatannya di pemerintahan demi kembali memusatkan perhatian pada Tesla.
Di tengah euforia keberhasilan BYD, laju pertumbuhan perusahaan tersebut sebenarnya melambat dan menjadi yang terlemah dalam lima tahun terakhir akibat persaingan sengit di pasar domestik China. Namun, strategi harga agresif tetap membuat BYD sulit ditandingi di level global.
Tak hanya mengandalkan pasar dalam negeri, BYD juga terus memperluas ekspansi ke Amerika Latin, Asia Tenggara, dan Eropa, meskipun menghadapi hambatan berupa tarif tinggi di sejumlah negara. Pada Oktober lalu, BYD mengungkapkan bahwa Inggris menjadi pasar terbesarnya di luar China, dengan lonjakan penjualan hingga 880 persen dalam setahun, didorong tingginya permintaan SUV plug-in hybrid Seal U.
Dengan perkembangan ini, persaingan kendaraan listrik dunia memasuki babak baru. China kini bukan lagi sekadar penantang, melainkan telah menjelma menjadi pemimpin utama pasar mobil listrik global, menggeser dominasi lama yang selama ini dipegang Tesla. (*/)
- Penulis: Pontianak Metro

Saat ini belum ada komentar