Photovoice Banjir Pontianak: Saat Foto Warga Bicara Lebih Keras dari Data Ilmiah
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
- print Cetak

Program Photovoice untuk memberi ruang bagi warga dalam menyampaikan pengalamannya selama dilanda banjir melalui foto dan narasi. | Photovoice Banjir Pontianak: Saat Foto Warga Bicara Lebih Keras dari Data Ilmiah. (Foto: Dok. Diskominfo)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PontianakMetro.Com – Selama puluhan tahun, banjir rob di Pontianak seringkali hanya dianggap sebagai “kejadian musiman” yang lazim. Namun, melalui program Photovoice yang digelar Yayasan Kolase di Rumah Budaya Gang Hj Salmah, Kamis (15/1/2026), persepsi itu digugat. Banjir kini ditunjukkan sebagai sebuah kecemasan nyata yang terekam dalam bidikan lensa kamera masyarakat sendiri.
Program ini membuktikan bahwa risiko banjir tidak cukup dipahami lewat peta ilmiah, melainkan harus dirasakan lewat pengalaman hidup warga yang rumahnya terendam setiap kali air pasang menyentuh angka 1,9 meter.
Ketua Yayasan Kolase, Andi Fahrizal, menegaskan bahwa Photovoice adalah metode partisipatif yang menempatkan warga sebagai subjek aktif. Sebanyak 30 fotografer warga dari 21 kelurahan rawan banjir dilibatkan untuk memotret realitas harian mereka.
“Foto-foto ini bukan sekadar visual. Di dalamnya ada ingatan dan pengalaman hidup warga yang kerap terabaikan dalam angka-data pemerintah. Kami ingin suara mereka menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan,” ujar Andi.
Banjir besar pada Desember 2025 lalu menjadi momentum peringatan. Air yang masuk hingga kolong Rumah Budaya menjadi sinyal bahwa ancaman banjir di dataran rendah gambut Pontianak sudah memasuki tahap yang sangat serius.
Akademisi Universitas Waterloo Kanada, Prof. Stefan Steiner, yang turut mendukung program ini di bawah naungan FinCAPES, menilai bahwa model ilmiah seringkali gagal menangkap “ketakutan” warga.
“Risiko banjir dialami di rumah, di sekolah, dan dalam kecemasan setiap kali hujan turun. Foto dan cerita warga menerjemahkan temuan ilmiah yang kompleks ke dalam pengalaman manusia. Dengan begitu, banjir tidak bisa lagi diabaikan sebagai sesuatu yang biasa,” tegas Prof. Steiner.
Kepala Bapperida Kota Pontianak, Sidig Handanu, yang hadir mewakili Wali Kota, mengapresiasi pendekatan budaya dan visual ini. Menurutnya, perspektif warga sangat penting untuk menentukan apakah sebuah genangan dianggap bencana atau kewajaran oleh publik.
“Isu banjir sudah masuk dalam isu strategis perencanaan jangka panjang Kota Pontianak. Hasil Photovoice ini akan kami jadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan peta risiko dan sistem peringatan dini,” kata Sidig.
Ia mengakui bahwa pembangunan yang tidak seimbang serta perubahan tata guna lahan di wilayah hulu (Kubu Raya dan Mempawah) telah mengganggu keseimbangan Pontianak sebagai “Kota Air”.
Melalui pameran fotografi dan sesi “Nongkrong Senja”, Yayasan Kolase berharap adanya dialog yang setara antara pembuat kebijakan dan warga terdampak. Harapannya, strategi adaptasi perubahan iklim di masa depan tidak lagi lahir dari balik meja kantor, melainkan dari pemahaman mendalam atas realitas di gang-gang sempit Kota Pontianak.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Tim Redaksi
- Sumber: Diskominfo

Saat ini belum ada komentar