Kunjungi PPG Landak, Karolin Margret Natasa Temukan Kasus Gizi Buruk Akibat Pernikahan Dini
- account_circle Hendri M
- calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
- print Cetak

Bupati Landak Karolin Margret Natasa soroti kaitan gizi buruk dengan pernikahan dini. Pemkab siapkan pelatihan ekonomi bagi ibu di PPG Landak. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PontianakMetro.Com — Masalah gizi buruk pada anak di Kabupaten Landak dinilai tidak bisa dilepaskan dari persoalan sosial dan ekonomi keluarga yang masih rapuh. Hal ini ditegaskan oleh Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, saat meninjau langsung Rumah Pusat Pemulihan Gizi (PPG) Kabupaten Landak pada Senin (26/1/2026).
Dalam kunjungannya, Karolin berdialog langsung dengan keluarga pasien dan menemukan fakta memprihatinkan yang memicu terjadinya kekosongan gizi pada anak. Salah satu kasus yang menonjol adalah seorang ibu muda berusia 18 tahun yang harus berjuang menghidupi anaknya sendirian tanpa pendampingan suami maupun pekerjaan tetap.
“Ibu pasien ini menikah di usia 16 tahun, dan sekarang di usia 18 tahun ia harus menghidupi anaknya sendirian tanpa suami. Ini tantangan nyata dari dampak pernikahan dini,” ungkap Karolin.
Karolin menekankan bahwa penanganan medis di PPG hanyalah langkah awal. Ia berpendapat, tanpa adanya penguatan ekonomi keluarga, risiko anak kembali jatuh ke kondisi gizi buruk akan sangat tinggi setelah mereka pulang ke rumah.
“Kalau akarnya tidak disentuh, maka setelah keluar dari PPG, anak-anak ini berpotensi kembali mengalami masalah yang sama,” tegas Bupati Landak tersebut.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemerintah Kabupaten Landak melalui koordinasi dengan Dinas Sosial telah menyiapkan program pelatihan keterampilan bagi para ibu selama masa pendampingan di PPG. Berbagai keahlian praktis akan diberikan, mulai dari bercocok tanam hidroponik, pembuatan kue, hingga keterampilan memasak yang memiliki nilai jual.
Program ini dirancang sebagai bekal agar para ibu memiliki kemandirian finansial. Dengan memiliki penghasilan mandiri, diharapkan mereka mampu menyediakan asupan gizi yang layak bagi anak-anak mereka secara berkelanjutan.
“Kita berharap ibunya bisa mandiri secara ekonomi, sehingga ke depannya dapat terus mendukung tumbuh kembang anaknya dengan layak,” harap Karolin.
Melalui pendekatan integratif ini, Pemkab Landak menegaskan bahwa Pusat Pemulihan Gizi kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat perawatan sementara, tetapi juga menjadi ruang intervensi sosial untuk memutus mata rantai gizi buruk, pernikahan dini, dan kemiskinan di Kabupaten Landak.
- Penulis: Hendri M
- Editor: Abu Alif

Saat ini belum ada komentar